Karangjati, Boyolali —Desa Karangjati, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, menjadi salah satu ruang belajar bagi mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro Tahun 2026. Berada di wilayah yang kehidupan masyarakatnya masih banyak bertumpu pada sektor pertanian, Desa Karangjati menyimpan berbagai potensi yang tidak hanya berkaitan dengan sumber daya alam dan ekonomi, tetapi juga dengan kehidupan sosial serta budaya masyarakatnya.
Berdasarkan rencana kerja KKN, pengembangan potensi desa diarahkan pada beberapa aspek, mulai dari pengolahan limbah hasil pertanian menjadi produk bernilai jual, penguatan kapasitas UMKM melalui digitalisasi, peningkatan kesehatan masyarakat, hingga penguatan tata kelola desa. Program-program tersebut disusun dengan mengacu pada beberapa tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Di tengah rangkaian program tersebut, Nada Remalia Situmorang, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Antropologi Sosial, terlibat dalam beberapa kegiatan yang memiliki keterkaitan erat dengan kajian masyarakat. Keterlibatannya mencakup Program Multidisiplin 1, Program Multidisiplin 2, serta Program Sosial Kemasyarakatan.
Bagi seorang mahasiswa Antropologi Sosial, berada di tengah masyarakat secara langsung memberikan kesempatan untuk tidak hanya menjalankan program yang telah dirancang, tetapi juga mengamati bagaimana masyarakat berinteraksi, memanfaatkan sumber daya di sekitarnya, serta mempertahankan kebiasaan dan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
01 — PROGRAM MULTIDISIPLIN 1 Dari Sampah Menjadi Potensi: Mengajak Masyarakat Melihat Nilai di Balik Limbah Rumah Tangga
Salah satu persoalan yang ditemukan dalam kehidupan masyarakat Desa Karangjati adalah masih terbatasnya kesadaran mengenai pengolahan sampah dan limbah rumah tangga. Benda yang telah dianggap tidak terpakai sering kali hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, padahal sebagian limbah tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali dan diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi. persoalan tersebut kemudian menjadi salah satu perhatian dalam Program Multidisiplin 1, yang secara umum dirancang untuk meningkatkan daya saing masyarakat Desa Karangjati melalui optimalisasi ekonomi digital, ketahanan kesehatan, dan pengelolaan potensi lokal. Program ini tidak hanya berfokus pada satu bidang, tetapi menggabungkan berbagai keilmuan yang dimiliki anggota tim untuk menjawab persoalan yang ditemukan di masyarakat.
Kegiatan ini berangkat dari pemahaman bahwa persoalan sampah sebenarnya tidak berhenti pada masalah lingkungan. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan mengenai cara mengolahnya, limbah dapat dilihat kembali sebagai salah satu sumber daya yang berpotensi dimanfaatkan.
Pendekatan edukasi kemudian menjadi penting karena perubahan tidak hanya bergantung pada tersedianya informasi, tetapi juga pada bagaimana informasi tersebut dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat diajak untuk melihat bahwa sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai masih dapat memiliki fungsi apabila dikelola dengan cara yang tepat. program ini sekaligus memperlihatkan bahwa pengelolaan potensi lokal dapat dimulai dari hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Tidak harus selalu berupa sumber daya alam dalam skala besar atau produk yang sudah memiliki nilai jual tinggi. Limbah yang muncul dari aktivitas rumah tangga sehari-hari pun dapat menjadi bagian dari potensi ekonomi apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengolahnya.
Hal tersebut sejalan dengan arah Program Multidisiplin 1 yang mendorong masyarakat agar mampu mengoptimalkan potensi lokal sebagai sumber ekonomi produktif yang berkelanjutan. Dalam dokumen rencana kerja, pengolahan limbah rumah tangga memang ditempatkan sebagai salah satu bentuk optimalisasi potensi lokal Desa Karangjati.lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi contoh bagaimana program KKN dapat mempertemukan berbagai perspektif keilmuan. pengolahan limbah bukan hanya persoalan mengenai bagaimana suatu benda diproses, tetapi juga mengenai kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan lingkungan, tingkat pengetahuan yang dimiliki, serta kemungkinan perubahan perilaku setelah memperoleh edukasi.
Dengan demikian, kegiatan edukasi ini tidak hanya berbicara mengenai “sampah” sebagai benda yang sudah tidak digunakan. Di dalamnya terdapat upaya untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai menjadi sesuatu yang mungkin memiliki manfaat lebih besar.
02 — PROGRAM MULTIDISIPLIN 2 Sekam Padi yang Tak Lagi Dipandang Sebagai Limbah
Jika pada Program Multidisiplin 1 perhatian diarahkan pada limbah rumah tangga, maka Program Multidisiplin 2 membawa perhatian pada potensi limbah yang lebih dekat dengan karakteristik Desa Karangjati sebagai wilayah yang memiliki aktivitas pertanian. program ini mengangkat tema “Pemanfaatan Limbah Sekam dan Kayu sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Produktif Masyarakat Desa Karangjati” dan diarahkan untuk melihat bagaimana limbah hasil pertanian dapat dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Sekam padi merupakan salah satu limbah yang mudah ditemukan di lingkungan pertanian. Namun, keberadaannya belum secara otomatis dipahami sebagai sebuah potensi ekonomi. Dalam rencana kerja KKN, disebutkan bahwa pemanfaatan limbah sekam padi menjadi briket dapat mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai tambah.sebuah sumber daya dapat tersedia dalam jumlah banyak, tetapi belum tentu dimanfaatkan apabila masyarakat belum mengetahui manfaatnya, belum memiliki pengalaman mengolahnya, atau belum melihat adanya peluang yang dapat diperoleh dari pemanfaatannya. karena itu, pengamatan terhadap persepsi masyarakat menjadi bagian penting. Melalui interaksi secara langsung, dapat dilihat bagaimana masyarakat mengenali sekam padi, bagaimana mereka memahami kegunaannya, serta bagaimana peluang pemanfaatan tersebut dapat diperkenalkan sebagai alternatif kegiatan produktif.
Pada tahap berikutnya, pemanfaatan sekam padi kemudian diarahkan pada proses pengembangan briket sekam. Rangkaian kegiatan KKN juga mencakup proses pengolahan sekam hingga menjadi bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan briket. Dokumentasi rencana kerja bahkan mencatat proses pembakaran sekam menjadi arang sekam serta proses penumbukan dan penyaringan arang sekam menjadi bubuk. proses tersebut memperlihatkan adanya upaya untuk mempertemukan potensi pertanian dengan peluang ekonomi. Sekam yang sebelumnya dapat dianggap sebagai limbah kemudian ditempatkan dalam rangkaian produksi yang lebih panjang hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai jual. Namun, dari sudut pandang sosial,proses tersebut juga menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal membutuhkan keterlibatan masyarakat. Teknologi atau metode pengolahan hanyalah salah satu bagian. Pengetahuan masyarakat, penerimaan terhadap inovasi, keterlibatan pelaku lokal, dan keberlanjutan pemanfaatannya.
Oleh karena itu, kajian terhadap persepsi masyarakat menjadi penting untuk melihat potensi tersebut secara lebih utuh. Program tidak hanya bertanya “apa yang dapat dibuat dari sekam?”, tetapi juga “bagaimana masyarakat melihat sekam tersebut dan apakah mereka melihat peluang di baliknya?” Pada akhirnya, pemanfaatan limbah sekam padi bukan sekadar upaya mengurangi keberadaan limbah. Program ini mencoba menunjukkan bahwa hasil samping dari aktivitas pertanian dapat memiliki kehidupan kedua sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
03 — PROGRAM SOSIAL KEMASYARAKATAN Membaca Karangjati dari Tradisi: Ketika Budaya Hidup dalam Kegiatan Sehari-hari
Di balik program-program yang berorientasi pada ekonomi dan pengelolaan potensi lokal, terdapat sisi lain dari Desa Karangjati yang tidak kalah penting untuk diperhatikan: kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya. Program Sosial Kemasyarakatan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk terlibat lebih dekat dengan aktivitas masyarakat. Dalam rencana kerja, pendataan potensi sosial dan budaya Desa Karangjati diarahkan untuk mengidentifikasi berbagai potensi yang ada, termasuk tradisi, kegiatan masyarakat, tokoh lokal, dan kelompok sosial, kemudian mengumpulkan informasi, mengelompokkan data, melakukan dokumentasi, dan menyusun hasil pendataan sebagai bahan pengembangan serta publikasi potensi desa.
Pendataan dan Dokumentasi Potensi Sosial-Budaya Desa Karangjati Dalam pelaksanaannya, perhatian tidak hanya diberikan kepada kegiatan formal yang berlangsung di lingkungan desa, tetapi juga kepada berbagai aktivitas yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Kegiatan seperti yasinan, pengajian, qosidahan, tirakatan, aqiqahan, hingga rangkaian perayaan 17 Agustus menjadi bagian yang menarik untuk diamati. Sekilas, kegiatan tersebut mungkin terlihat sebagai kegiatan rutin yang biasa dilakukan masyarakat. Namun, apabila dilihat lebih dekat, terdapat berbagai bentuk interaksi sosial dan nilai kebersamaan yang berlangsung di dalamnya. Yasinan, misalnya, bukan hanya menjadi kegiatan keagamaan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pertemuan warga dan salah satu cara masyarakat mempertahankan hubungan sosial. Warga berkumpul, berinteraksi, dan berbagi ruang dalam sebuah kegiatan bersama.
Hal yang sama dapat dilihat melalui pengajian dan qosidahan. Di dalam kegiatan tersebut terdapat proses berkumpulnya masyarakat, terutama kelompok-kelompok tertentu, yang secara tidak langsung menciptakan ruang untuk mempererat hubungan antarwarga. Kegiatan yang dilakukan secara berulang juga memperlihatkan bagaimana kebiasaan dapat terus dipertahankan dan diwariskan dalam kehidupan masyarakat. Sementara itu, tirakatan dan berbagai kegiatan menjelang maupun dalam rangka perayaan 17 Agustus menunjukkan sisi lain kehidupan sosial masyarakat. Perayaan kemerdekaan tidak hanya hadir sebagai agenda tahunan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul, bekerja sama, mempersiapkan kegiatan, dan menciptakan rasa kebersamaan.
Dalam rencana kegiatan KKN, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan masyarakat memang mencakup aktivitas seperti yasinan setiap malam Jumat, pengajian ibu-ibu, karya bakti, piket di kantor desa, serta membantu penyusunan dan perayaan acara 17 Agustus.
Begitu pula dengan aqiqahan, yang dapat menjadi ruang pertemuan antara keluarga dan masyarakat sekitar. Kehadiran warga dalam kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa hubungan sosial di desa tidak hanya dibangun melalui kegiatan formal, tetapi juga melalui berbagai peristiwa kehidupan yang melibatkan masyarakat di sekitarnya. dan melihat langsung budaya dari dekat.
Bagi mahasiswa Antropologi Sosial, keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk melihat kebudayaan bukan hanya sebagai sesuatu yang berada di museum, arsip, atau pertunjukan tradisional. Budaya justru dapat ditemukan dalam aktivitas yang dilakukan berulang kali oleh masyarakat. Cara warga berkumpul, siapa yang terlibat dalam kegiatan, bagaimana suatu acara dipersiapkan, bagaimana peran dibagi, bagaimana orang-orang berinteraksi, serta bagaimana sebuah kebiasaan terus dilakukan dari waktu ke waktu merupakan bagian dari kehidupan sosial yang dapat dipahami sebagai potensi budaya. Pendekatan tersebut membuat pendataan sosial-budaya tidak berhenti pada mencatat nama kegiatan. Yang lebih penting adalah memahami makna kegiatan tersebut bagi masyarakat yang menjalankannya. Misalnya, sebuah kegiatan yang secara sederhana disebut sebagai “yasinan rutin” dapat dilihat lebih jauh sebagai ruang interaksi sosial. Begitu juga dengan pengajian, qosidahan, tirakatan, maupun kegiatan 17 Agustus yang dapat memperlihatkan bentuk kebersamaan, partisipasi, dan hubungan antaranggota masyarakat.
Dari sini terlihat bahwa potensi Desa Karangjati tidak hanya berada pada produk pertanian, UMKM, atau limbah yang dapat diolah menjadi produk ekonomi. Masyarakat itu sendiri merupakan bagian dari potensi desa. Tradisi, kebiasaan, pengetahuan lokal, kegiatan bersama, serta hubungan sosial yang terbangun di dalamnya merupakan kekayaan yang membentuk identitas suatu wilayah. Dari Mengikuti Menjadi Mengamati Keterlibatan dalam kegiatan sosial masyarakat juga mengubah posisi mahasiswa dari sekadar “orang luar” yang datang membawa program menjadi pihak yang berusaha memahami kehidupan masyarakat dari dekat. proses tersebut menjadi penting dalam pendekatan Antropologi Sosial. Interaksi langsung memberikan kesempatan untuk memahami kehidupan masyarakat berdasarkan apa yang benar-benar terjadi di lapangan, bukan hanya berdasarkan informasi tertulis.
Dengan mengikuti berbagai kegiatan masyarakat, proses pendataan dapat dilakukan bersamaan dengan pengamatan terhadap dinamika sosial yang muncul. Dokumentasi kemudian menjadi bagian penting untuk merekam berbagai kegiatan tersebut agar potensi sosial dan budaya yang ditemukan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi selama KKN, tetapi dapat menjadi informasi yang dapat dikenali dan dipublikasikan sebagai bagian dari potensi Desa Karangjati.
Pada akhirnya, kegiatan sosial kemasyarakatan menjadi pengingat bahwa pembangunan desa tidak hanya membutuhkan pengembangan ekonomi, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap identitas dan kehidupan sosial masyarakat yang menjadi bagian dari desa itu sendiri.
KARANGJATI BUKAN HANYA TENTANG POTENSI, TETAPI TENTANG MASYARAKATNYA
Rangkaian kegiatan KKN Tim II UNDIP 2026 di Desa Karangjati memperlihatkan bahwa sebuah desa memiliki banyak lapisan potensi yang dapat dipelajari. Melalui Program Multidisiplin 1, perhatian diberikan pada bagaimana limbah rumah tangga dapat dilihat kembali sebagai sesuatu yang memiliki nilai guna dan peluang ekonomi. Melalui Program Multidisiplin 2, limbah sekam padi dipelajari dari sisi persepsi masyarakat dan peluang pemanfaatannya sebagai bagian dari ekonomi produktif desa.
Sementara itu, melalui Program Sosial Kemasyarakatan, perhatian bergeser kepada manusia dan kehidupan yang berada di balik potensi tersebut: bagaimana masyarakat berkumpul, berinteraksi, menjalankan tradisi, mempertahankan kebiasaan, serta membangun hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.Ketiga bagian tersebut pada akhirnya saling berhubungan.
Potensi desa bukan hanya apa yang dimiliki oleh sebuah wilayah, tetapi juga bagaimana masyarakat mengenali, memanfaatkan, mempertahankan, dan memberikan makna terhadap potensi tersebut. dan bagi mahasiswa, KKN menjadi pengalaman untuk belajar bahwa pengetahuan dari ruang kelas tidak selalu berdiri sendiri. Ketika dibawa ke tengah masyarakat, pengetahuan tersebut bertemu dengan pengalaman, kebiasaan, nilai, dan cara pandang masyarakat yang telah berkembang jauh sebelum mahasiswa datang.
Dan dari Desa Karangjati, proses tersebut menjadi sebuah pembelajaran bahwa untuk memahami sebuah desa, kita tidak cukup hanya melihat apa yang tampak di permukaan. Kita juga perlu melihat masyarakat yang menghidupkannya.