Karangjati — Sekam yang biasanya berakhir sebagai sisa pertanian ternyata bisa memiliki cerita lain. Di Desa Karangjati, Kabupaten Boyolali, limbah sekam dimanfaatkan menjadi produk berbasis arang atau briket yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi. Inovasi tersebut menjadi bagian dari program multidisiplin KKN Tim II Universitas Diponegoro (UNDIP) dalam mendorong pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan.
Namun, sebuah produk tidak cukup hanya dibuat. Produk juga perlu dikenal, dipahami, dan memiliki cara untuk menyampaikan cerita di baliknya. Berangkat dari hal tersebut, Larasati Naswa, mahasiswa KKN Tim II UNDIP, turut berkontribusi melalui kegiatan edukasi mengenai pemanfaatan media sosial kepada masyarakat Desa Karangjati pada Minggu, 2 Agustus 2026. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa media sosial bukan sekadar tempat untuk scroll, berbagi aktivitas, atau mencari hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana memperoleh informasi, membangun komunikasi, dan menyampaikan pesan kepada khalayak yang lebih luas.
Dalam kegiatan tersebut, Larasati memperkenalkan pemanfaatan media sosial secara lebih strategis, khususnya dalam mendukung penyampaian informasi dan pengenalan potensi lokal. Masyarakat diperkenalkan pada bagaimana sebuah informasi dapat dikemas dengan cara yang menarik, komunikasi dapat menjangkau lebih banyak orang, serta sebuah produk dapat memiliki ruang untuk memperkenalkan identitas dan keunggulannya. Dengan pemahaman tersebut, media sosial tidak lagi hanya dilihat sebagai ruang digital untuk berinteraksi, tetapi juga sebagai salah satu bagian dari strategi komunikasi.
Hal ini menjadi relevan dengan adanya inovasi pemanfaatan limbah sekam yang dikembangkan dalam program multidisiplin KKN Tim II UNDIP di Desa Karangjati. Produk berbasis arang atau briket yang dihasilkan memiliki cerita mulai dari bahan yang digunakan, proses pemanfaatan limbah, hingga manfaat yang ditawarkan. Cerita tersebut dapat menjadi bagian dari informasi yang dikomunikasikan melalui media sosial sehingga potensi lokal tidak berhenti pada proses pengolahan, tetapi juga memiliki peluang untuk dikenal oleh khalayak yang lebih luas.
Melalui edukasi yang disampaikan, Larasati mengajak masyarakat untuk memandang media sosial sebagai ruang yang dapat dimanfaatkan secara produktif dalam memperkenalkan potensi desa. Pemanfaatan media sosial secara tepat diharapkan dapat membantu masyarakat menyampaikan informasi mengenai produk lokal, inovasi, maupun kegiatan desa dengan cara yang lebih komunikatif dan mudah diterima oleh khalayak.
Kolaborasi antara inovasi pengolahan limbah sekam dan edukasi pemanfaatan media sosial tersebut turut sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Edukasi memberikan tambahan pengetahuan bagi masyarakat, pengembangan produk lokal membuka peluang peningkatan nilai ekonomi, sedangkan pemanfaatan sekam menjadi produk bernilai guna mendorong praktik pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Pada akhirnya, kegiatan ini mengajak masyarakat untuk melihat hal-hal sederhana di sekitar dari sudut pandang yang berbeda. Sekam yang semula dianggap sebagai limbah dapat memiliki nilai baru, sementara media sosial dapat menjadi ruang untuk membawa cerita, inovasi, dan potensi Desa Karangjati kepada lebih banyak orang.