You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa Karangjati
Logo Desa Karangjati
Karangjati

Kec. Wonosegoro, Kab. Boyolali, Provinsi Jawa Tengah

Mahasiswa KKN R UNDIP Tingkatkan Kualitas Pendidikan Dengan Edukasi Sejarah Desa Karangjati di SMPN 2 Wonosegoro Guna Mewujudkan SDGs 4, 11, dan 16

Administrator 05 Agustus 2026 Dibaca 22 Kali
Mahasiswa KKN R UNDIP Tingkatkan Kualitas Pendidikan Dengan Edukasi Sejarah Desa Karangjati di SMPN 2 Wonosegoro Guna Mewujudkan SDGs 4, 11, dan 16

KARANGJATI - Mahasiswa program studi Sejarah Universitas Diponegoro menyelenggarakan kegiatan edukasi pengenalan sejarah lokal bagi para siswa kelas sembilan di Sekolah Menengah Pertama Negeri dua Wonosegoro. Program pembelajaran ini bertujuan kuat untuk mengenalkan kembali kekayaan historiografi serta dinamika transisi kekuasaan yang telah berakar di Desa Karangjati, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali semenjak era prakemerdekaan. Melalui berbagai pendekatan yang sangat interaktif, kegiatan ini diharapkan akan mampu membangun fondasi kesadaran sejarah pada generasi muda. Para siswa secara langsung diajak memahami bahwa desa bukanlah sekadar wilayah administratif biasa, melainkan institusi sosial budaya tertua yang memiliki peran sangat krusial dalam membentuk identitas fundamental peradaban luhur masyarakat kita.

Materi yang disampaikan dalam kegiatan edukasi ini mencakup asal usul desa yang berkaitan erat dengan legenda pelarian prajurit bernama Suwargi Nyi Gading pada masa konflik kerajaan. Beliau diyakini masyarakat sebagai tokoh pembuka wilayah permukiman di kawasan tepian Kali Serang. Siswa kelas sembilan SMP Negeri dua Wonosegoro tampak begitu antusias saat menyimak cerita tentang penamaan desa yang berasal dari keberadaan pohon karang dan pohon jati yang tumbuh secara berdampingan. Kisah pembentukan awal permukiman ini sukses memberikan pemahaman baru bagi para siswa mengenai pentingnya menjaga warisan memori kolektif masyarakat desa agar tidak pernah hilang tergerus oleh cepatnya laju arus modernisasi zaman kini.

Selain membahas mitos pembentukan wilayah pada masa lampau, edukasi ini juga menyoroti transformasi tata kelola birokrasi pemerintahan desa dari masa kolonial Belanda hingga menuju era kemerdekaan. Siswa diajak untuk mengenal lebih jauh sistem hierarki tradisional Demangan, di mana sosok karismatik seperti Kami Tua selalu bertindak sebagai pelindung rakyat kecil dari berbagai ancaman. Penjelasan mengenai perubahan sistem kepemimpinan ini amat disesuaikan dengan kapasitas pemahaman siswa kelas sembilan. Transformasi berharga dari sistem feodal menuju struktur kelurahan yang jauh lebih demokratis pada tahun sembilan belas empat puluh enam menjadi sebuah bukti nyata kedewasaan masyarakat pedesaan dalam mengelola suksesi jalannya roda tata pemerintahan setempat.

Kegiatan literasi sejarah ini sangat sejalan dengan pencapaian beberapa target pembangunan berkelanjutan, khususnya mengenai pendidikan bermutu, kota berkelanjutan, serta kelembagaan yang tangguh. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang kearifan lokal seperti tradisi sadranan dan tingginya semangat gotong royong warga, siswa diajarkan nilai resiliensi sosial. Pelestarian warisan budaya di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur desa sungguh membuktikan bahwa modernisasi bisa berjalan lurus beriringan dengan pelestarian tradisi leluhur. Edukasi sejarah di lingkungan sekolah ini telah menjadi sebuah langkah kecil namun sangat bermakna untuk terus mencetak generasi penerus yang berwawasan luas, menghargai akar budaya bangsa, serta siap menghadapi berbagai macam tantangan masa depan kelak.

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan